Rabu, 26 Mei 2010

Passion

Passion Out Loud
Oleh: Rene Suhardono Canoneo


Apakah para pembaca masih berpikir bahwa pekerjaan ( job) sama dengan karir?

Semua yang tampak dan ada dikantor adalah bagian dari pekerjaan. Seluruh peralatan diatas meja, prosedur, mekanisme dan tugas adalah bagian dari itu.Termasuk didalamnya si bos, rekan kerja dan bawahan.Bahkan termasuk juga kartu nama yang senantiasa kita bawa kemana-mana. Singkatnya pekerjaan sekadar alat atau kendaraan yang bias membawa kita kesatu tempat yang kita kehendaki.Pekerjaan adalah milik perusahaan, bukan milik kita.You may have attachments to your job but is not and will never be yours.

Sebaliknya, karir adalah perjalanan itu sendiri.Bisa jadi kita punya banyak pekerjaan dalam karir, bias juga kita mengalami pergantian profesi didalamnya.Jangan pernah melihat karir sebagai garis lurus.Terlalu banyak contoh yang bias menggambarkan betapa karir kita terkesan erratic.Kalau kita beranggapan bahwa awal garis karir adalah jenjang pendidikan, lucu juga melihat perbankan Indonesia yang banyak dihuni oleh lulusan IPB.Institutdi Bogor itu bahkan kerap kali dijuluki Institut Perbankan Indonesia! Dalam kapasitas sebagai executive recruiter atau lebih lazim dijuluki headhunter, saya sering berinteraksi dengan lulusan teknik yang menjadi CFO, lulusan Sastra Inggris beralih jadi Head of HR, bahkan dengan lulusan D3 Sekretaris yang menjelma sebagai CEO.

Karir merupakan totalitas kehidupan professional dalam hidup kita.Dan tidak ada cara yang lebih tepat – dan nyaman (paling tidak untuk diri sendiri) apabila karir kita di ilhami oleh passion kita.Your career is yours. Your career is you.

Passion: I decided long ago never to live in anyone’s shadow

Bicara soal passion, jangan berpikir kalau passion sama dengan hobby. Memang mirip tapi tidak sama. Dalam banyak kesempatan saya menanyakan soal yang satu ini kepada banyak orang.Sebagian kecil menjawab tidak punya, sebagian lain menjawab tidak perlu, sebagian besar menyebut hobby sebagai passion mereka, sisanya, yang saya sebut sebagai “the lucky few” cenderung paham, peduli dan bekerja sesuai passion mereka.

Secara singkat passion adalah segala hal yang kita minati sedemikian rupa sehingga kita tidak terpikir untuk tidak mengerjakannya.Tidak mudah menemukan passion untuk diri sendiri, terlebih untuk memperdulikannya.Namun mencoba untuk TAHU akan jauh lebih baik daripada mengacuhkannya sama sekali. Rata-rata professional yang teguh dalam mencari karir sesuai passion mereka perlu waktu 4 – 8 tahun untuk menemukannya.Saya sendiri perlu tidak kurang dari 9 tahun dari total 17 tahun pengalaman kerja untuk menemukan passion saya. Tidak ada kata terlambat untuk hal yang satu ini.

Pernah ada yang mengomentari kalau diskusi passion adalah unnecessary dan tidak lebih sebagai luxury talk.Kalau sudah nganggur 2 tahun, kata orang tersebut, tentu lebih relevan untuk kerja apa saja untuk survive. Jawaban saya? Well, saya hargai pendapat ini. Kalau benar perlu waktu 2 tahun untuk cari kerja, tentu saya tidak akan mengatakan “jangan kerja disana kalau itu bukan passion mu”. Jalani saja apa yang perlu dikerjakan untuk survive, namun jangan pernah berhenti mencari passion kita. Pada titik ekstrim lain, saya banyak berjumpa dengan para professional senior yang telah bekerja lebih dari 20 tahun tanpa pernah tahu, apalagi merasakan, bekerja sesuai passion mereka. And these are not happy stories…

Finding (your) Passion: Don’t try too hard, it’s from within

Boleh saya terka pertanyaan yang ada dipikiran anda?Bisa jadi bunyinya seperti ini: Bagaimana menemukan passion kita? Apakah harus kerja sesuai passion kalau mau sukses ? Apakah passion bias berganti? Bagaimana membawa passion dalam pekerjaan kita sekarang? Dan apakah harus keluar dari job sekarang untuk mengejar passion kita? Dan seterusnya…

Saya senang menggunakan analogi finding love untuk menjawab pertanyaan bagaimana menemukan passion.Mencari passion tidak seperti mencari dompet hilang.Passion kita sudah ada didalam diri kita. Dan sebagaimana cinta sejati, ada beberapa hal yang harus diketahui soal passion:

• Passion dating dari hati yang tulus. Passion tidak perlu dicari namun sudah ada didalam diri kita masing-masing. Coba jadikan diri terbuka untuk tahu, merasakan dan jujur mengenai segala hal yang saat dikerjakan membuat hati kita lega, lepas dan gembira. Lupakan sejenak soal uang, jabatan dan atribut lain, itu hanya akan memperumit keadaan.
• Perluas horizon. Ketemu dan diskusi dengan orang-orang yang mungkin bias bantu, bacabuku, pelajari bahasa asing baru, coba makanan baru, pergi ketempat baru, miliki kebiasaan baru… try everything!
• Don’t hold anything back – jangan nanggung. Kalau benar-benar mau tahu soal passion sendiri jangan nanggung dalam berupaya. Sahabat saya, Jerry Aurum bilang tidak ada hari yang bisa dilewatkan tanpa memikirkan passion yang kebetulan sama dengan profesinya saat ini: capturing moments.
• Be positive. Nggak perlu marah-marah dan sensitive kalau belum tahu passionnya. Kesadaran bahwa masih harus tahu passion masing-masing adalah langkah pertama yang hebat! Saya sendiri butuh waktu 9 tahunsejak lulus SMA untuktahupassionsaya.
• Nikmati prosesnya – proses ini tidak ada finish line. Enjoy the journey itself. It’s all about self-discoveries. Sebelum bisa bilang I do only what I love doing, jangan pernah ragu mencoba banyak hal. And yes, you can have more than one passion.

Passion bisa dikembangkan dari pekerjaan sekarang atau dengan cara lain. You don’t have to quit your job – although it is also ok to quit if you are sure. Kuncinya ada pada diri sendiri.Masih bingung juga? Worry less, do more!

Sumber: http://www.kompaskarier.com/, 10 Maret 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar